Kamis, 28 April 2016.
Sore itu aku jaga di Poli Kandungan, jadi asisten dokter residen SpOG. Karena dokter yang biasanya tugas, sedang ada pelatihan di Jogja. Well, cukup banyak pasiennya hari itu. Dari yang mau USG sampai kontrol luka jahitan SC ada semua. Sampai tiba waktunya waktu praktik poli hampir usai.
"Masih ada pasien mbak?" tanya dr. Mega.
"Sepertinya tadi yg terakhir dok. Coba saya cek di bagian pendaftaran", jawabku.
Aku keluar dari Ruang Poli Kandungan menuju tempat pendaftaran.
"Masih ada satu pasien dek", kata embak-embak pendaftaran.
Aku melihat seorang ibu berdiri didepan meja pendaftaran dan anak gadisnya duduk dikursi. Aku mengambil kertas rekam medis miliknya. Aku memanggil namanya dan mempersilahkan ibu itu masuk.
"Anak saya mbak yang mau periksa", kata ibu yang sudah paruh baya.
Aku mempersilahkan duduk, lalu mengukur tekanan darah dan menimbang berat badannya.
"Ada keluhan apa mbak?"tanyaku menggali informasi, pikirku siapa tahu bisa kujadikan sebagai pasien askebku.
"Mual mbak" jawab Nn. G singkat. Aku tidak berpikir terlalu jauh. Toh nanti akan di anamnesa oleh dokter lebih medalam. Aku mempersilahkan pasien tersebut untuk masuk di ruang poli kandungan. dr. Mega mempersilahkan pasien tersebut untuk duduk.
"Bagaimana ibu? Baru pertama kali datang kemari ya bu?", sambut dr. Mega dengan ramah.
"Iya dok. Begini, anak saya ini kan masih kelas 2 SMA. Tapi mensnya telat 1 bulan dok. Kemarin pp test di bidan katanya hasilnya positif", kata ibu tersebut sambil tertunduk malu sekaligus raut wajahnya memerah. Aku tertegun mendengarnya. Lalu dr. Mega melakukan USG. Namun belum terlihat adanya kantong kehamilan sehingga disarankan untuk pp test ulang di laborat. Dari hasilnya menunjukkan 2 garis merah yang pasti, tandanya ia positif hamil. Wajah ibunya semakin lesu, merah dan linangan air mata itupun jatuh dijilbabnya.
"Terus ini bagaimana dok? Kalo bapaknya tahu bisa dibunuh dia dok!" kata ibunya.
Dokter Mega pun diam sejenak dan menyarankan untuk menikah saja. Tapi ibu itu menolak, dan berusaha meminta dr. Mega untuk membantu menggugurkan kandungan anaknya tersebut dengan alasan umur kehamilannya masih kecil.
"Mohon maaf ibu, saya tidak bisa membantu. Dahulu ketika saya disumpah menjadi dokter, ada salah satu sumpah yaitu menghormati kehidupan. Hal ini akan tidak baik, apabila saya melanggarnya. Lagi pula di agama kita juga tidak boleh dan merupakan suatu hal yang tidak disukai oleh Allah" jelas dr. Mega kepada pasiennya tersebut.
Ibu itu terlihat risau dan gelisah. Anaknya yang seperti tidak tahu apa-apa hanya terdiam dan mempoloskan diri. Menurut ibunya, anaknya tidak mau mengakui melakukan perbuatan haram itu dengan siapa, pacar saja katanya tidak punya dan 6 bulan terakhir ini tidak melakukan hubungan seksual. Nah lo, kalo seperti ini siapa yang mau bertanggungjawab. Karena harapan ibu dan anaknya tidak sesuai dengan yang bisa dilakukan oleh dokter, maka mereka pun pulang dengan hati yang kecewa dan sedih yang dalam.
Boom.
Dari pengalamanku diatas, aku mencoba mengambil hikmahnya. Jangan pernah sekali-kali kita mendekati zina apalagi melakukannya. Allah tidak suka, dan Allahpun akan murka. Coba kita lihat ibu dan ayah kita, bagaimana perjuangan dan lelah mereka untuk anak-anaknya. Jika membalas budi dan berbakti kepada mereka belum bisa, maka jangan membuat hati mereka sedih dan terluka. Jaga nama baik ibu dan ayah kita dimanapun kita berada. Hormati dan mari berbakti kepada mereka.
Untuk dr. Mega, terimakasih atas ilmunya dan kesetiaannya terhadap sumpah. Semoga saya dapat amanah seperti dokter. I will do. Semoga gelar SpOG segera memperpanjang nama dokter secepatnya :)
Salam hangat dariku untuk teman seperjuangan, semoga kita dapat menjaga mahkota hingga yang halal tiba.
Salam sayang untuk umi dan abahku di Jogja, aku merindukan kalian. Semoga Allah meridhoi setiap perjuangan umi, abah dan anak-anakmu. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar