Rabu, 16 Mei 2018

Ku kembalikan engkau pada Allah Azza Wa Jalla

Bolehkah aku khawatir?
Jika semakin aku berlari mengejarmu, bisa jadi engkau juga akan berlari bahkan bisa jauh lebih kencang.
Bukannya aku menyerah, namun aku juga terus ikhtiar dan tawakkal.
Insyaallah, doa-doa yang selama ini kupanjatkan takkan gentar atau berhenti.
Aku kembalikan engkau pada pemilikmu yang hakiki, Allah Azza Wa Jalla.
Aku yakin bahwa Allah yang menggenggam harapan dan doa-doaku selama ini.
Aku yakin bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik.
Semoga dibulan Ramadhan ini, kita semakin khusyuk beribadah, semakin dalam memanjatkan doa, dan semakin mantap memperbaiki diri.
Tetap menjadi orang baik dan berdiri tegak dalam keislaman.
Aku selalu menunggu dan mendoakanmu dalam kesabaran.❤

Sabtu, 05 Mei 2018

SURAT TERBUKA UNTUK BANG RADITYA DIKA

Assalamualaikum wr. wb.
Hai Bang Radit.
Alhamdulillah, hari ini aku mendengar kabar bahagia atas dirimu. Penantian panjangmu selama ini, akhirnya telah terjawab juga. Aku ikut senang, akhirnya kamu menikah dengan Kak Anisa Aziza, yang usianya selisih 9 tahun lebih muda. Masyaallah, keren! Ini bukti bahwa usia bukan alasan penghalang pernikahan.

Aku mau ngucapin terimakasih, sudah menjadi sosok yang menginspirasi untuk sebagian jomblo di bumi ini. Aku banyak belajar, bagaimana cara menikmati setiap pertanyaan dari banyak orang tentang "Kapan menikah?"
Jawabanmu selalu konyol bang, tapi ada benernya juga. Ya, setiap pertanyaan dan jawaban yang baik merupakan doa, yang hendaknya di-Amiin-kan.

Sampai waktu itu tiba, aku dibrondong pertanyaan "kapan nikah? Kapan nikah?". Bermodal percaya diri dengan mantapnya aku menjawab, "Aku akan nikah, setelah Bang Radit nikah!". Waktu itu, belum ada bayangan Bang Radit bakal nikah, apalagi sama Kak Anisa. Setahu kami, Bang Radit itu Presiden Jomblo di Indonesia. Perlahan tapi pasti, doa telah mengetuk pintu langitNya. Alhamdulillah, sekarang Bang Radit sudah menikah. Itu berarti giliranku juga akan tiba bang. Insyaallah, nikah juga euy. Aamiin. Doain ya.

Terimakasih Bang, sudah berada di barisan orang berjasa dihidupku. Salah seorang yang melindungiku dari pergaulan kenakalan di masa kuliah. Paling-paling, nakalnya aku cuma karaokean nyanyi lagu soundtrack filmmu, berani ke UGM sendirian buat ikut acara Talkshowmu, pulang kuliah bukannya pulang kerumah tapi malah pergi ke mall buat MnG atau sekedar nonton film, nyisihin uang jajan buat beli bukumu dan menikmati karyamu. Ya, masa kuliahku terselamatkan berkatmu juga bang.

Memang untuk standup comedy atau humor, aku lebih suka berkiblat pada Bang radit. Guyonannya cerdas! Meski agak jorok!

Sekarang aku melepaskanmu bang, bukan karena tidak suka lagi. Aku mau berjuang untuk yang lain. Berjuang jadi jomblo yang lebih baik. Hehe.

Sekali lagi, aku mewakili rakyat jomblo di Indonesia mengucapkan, "Selamat Menikah! Barakallahu laka wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainnakumma fii khoir. Aamiin." Wassalamualaikum wr.wb

ttd
Rakyat Jomblo😆

Senin, 05 Maret 2018

Bekerja dengan cinta

Alhamdulillah. Siang hingga malam ini aku begitu senang. Kamu mau tahu kenapa? Aku punya teman baru, mendapat ilmu baru, pengalaman baru, ketrampilan baru, dan tentu karena ada kamu di waktu 6 jam 30 menitku. Serius tapi menyenangkan. Bercanda tapi mengasyikkan.
Kamu menghancurkan keresahan dan ketakutanku selama ini. Tinggallah kepingan semangat dan hal yg menguatkan diri.
Terimakasih ya.
Kamu begitu baik, meski kamu diam.
Keberadaanmu begitu berarti.

Minggu, 18 Desember 2016

Pria Tampan

Sebelum menulis ini, aku berusaha menenangkan pikiranku. Beberapa kali aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Senyumku tersungging lebar. Terkadang aku ketawa kecil. Aku menertawakan diriku sendiri. 
Kemarin sore, tepatnya aku sedang duduk sendiri di ruang pendaftaran tempatku bekerja. Aku baru saja menyelesaikan tugas membuatkan obat-obat untuk pasien-pasienku. Sore itu, ada sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan klinik. Aku melihatnya secara detail. Perlahan, ia menutup jendela mobilnya. Membuka pintu lalu turun dan menutupnya kembali. Dari kejauhan, aku melihat seorang laki-laki dengan pakaian dinas Pegawai Negri Sipil berjalan kearahku. Senyumnya tipis, tapi mengembang perlahan. Sempurna. Aku melihat tak ada seseorangpun berjalan dibelakangnya. 
"Single nih". Pikiran jahatku merajalela.
Dengan nada lembut bak pangeran surga, ia menyapaku. 
"Permisi mbak. Emm. Mau periksa".
"Emmm. Iya mas. Emm, Pak. Mau periksa apa?" Aku gelagapan. Debar jantungku pasti sudah tidak stabil.
"Itu mbak. Emm anu. Istri saya pusing".
Rasanya kerja jantungku sekarang malah berhenti sepersekian detik. Aku tidak lagi tersenyum, tapi meringis.
"Oh iya pak. Bisa dibawa turun keruang periksa tidak ya? Nanti akan kami berikan tindakan yg sesuai setelah dilakukan pemeriksaan".
Kemudian sang suamipun menggendong istrinya yg berjalan sempoyongan. Sangat mesra.
Aku membuang jauh-jauh hal yang aku pikirkan beberapa detik yang lalu. Dengan senyum tipis, aku melakukan tugasku.
Sebagai bidan, sudah kewajibaku membantu wanita yg kesakitan. Aku melakukan pemeriksaan. Menuliskan resep dan memberikan konseling. Ya, meskipun pasienku ini telah membuat jantungku bermain-main dengan iramanya.

Jumat, 09 Desember 2016

Doa Ibu Melahirkan

Pukul 04.00 WIB dini  hari tadi, ada suara orang mengetuk pintu ruang jagaku.
'Mbak ada pasien inpartu' kata Bidan Senior.
'Iya bu'
Aku berjalan kearah luar, mengintip dari jendela dan melihat ada wanita muda memegangi perutnya. Aku membuka pintu lalu menyambutnya.
Rupanya beliau adalah pasiem yang kemarin sore datang periksa, usia kehamilannya sudah 40 minggu 6 hari.
'Sudah semakin sering belum kenceng-kencengnya, mbak?'
'Sudah, sudah setiap 5 menit sekali. Tapi belum ada lendir darah'
Aku mempersilahkan beliau masuk ke ruang periksa.
'Mbak, saya solat subuh dulu ya. Mbak Ulfa sudah subuh belum?'
'Iya mbak, silahkan. Saya siapkan ruangan dan mukenanya'
Kami melaksanakan solat subuh terlebih dahulu. Selepas subuh, aku memeriksa beliau, tekanan darahnya 100/70 mmhg, denyut jantung janinnya normal 140x/m. Kontraksinya sering tapi tidak terlalu lama. Pembukaannya masih 2 cm. Aku mengajarkan beberapa teknik relaksasi dan cara mengurangi rasa nyeri (pain release). Untuk mencairkan suasana, bersamaan dengan aku menghitung kontraksi aku mengajaknya ngobrol. Sebelumnya aku melihat di buku KIA, pendidikan terakhirnya S1 dan profesinya guru. Panggil saja namanya Mbak Raisa.
'Mbak Raisa, mengajar dimana?"
'Di SMA IT x" (terletak di Provinsi lain dari tempat bersalin)
'Mengajar pelajaran apa mbak?'
'Fisika mbak'
'Masyaallah. Luar biasa'
'Iya, saya aslinya Sragen. Tapi saya dapat suami orang sini. Sekarang tinggal dirumah suami selama mau melahirkan ini mbak. Semoga suaminya Mbak Ulfa orang sini juga ya?'
'Aamiin. Insyaallah. Mohon doanya ya mbak', aku tersipu malu.
Memang kemarin sore waktu periksa, kami juga sempat ngobrol. Beliau tahu aku orang Karanganyar, yang berdekatan dengan Sragen. Beliau juga bertanya apakah aku sudah menikah. Dan sebagai bidan muda, aku sering sekali mendapat pertanyaan ini dari pasien. Tentu dengar baper saya jawab belum dan meminta didoakan dari pasien yang bertanya. 
Kembali pada doa Mbak Raisa pagi ini, ditengah-tengah kontraksinya. Aku hanya mampu mengaminkan. Setelah aku melengkapi rekam medis pasien, aku tersadar. Sekarang Hari Jumat dan diluar sedang turun hujan. Masyaallah. Doa ibu melahirkan di Hari Jumat disertai hujan, semoga mustajab. 
Sabar berjumpa denganmu, jodohku.



Ps: Terimakasih Mbak Raisa. Semoga persalinannya lancar. Ibu dan bayinya sehat. Selamat menjadi ibu.

Jumat, 12 Agustus 2016

Ku Ikhlaskan Rinduku

Untukmu seseorang yang aku rindukan. Aku menulis kisah ini dalam panjangnya penantian bersama getarnya rindu yang tertahan. Aku ingin mencoba meluapkan tentang rasa yang begitu saja ada bersama hadirmu sejak pertama. Untukmu seseorang yang aku rindukan, sedang apa dirimu? Dimana kamu sekarang? Aku berusaha untuk tidak lagi bertanya  kapan dirimu pulang. Aku mengerti setiap kepergianmu untuk berjuang, bersama itu pula dirimu tidak tahu kapan akan kembali. Karena medan perang adalah hidup atau mati. Jangan kau salah artikan, diamku kepadamu bukan berarti tidak rindu melainkan lebih dahsyat dari itu. Aku hanya ingin dirimu diberikan kemudahan dalam menyelesaikan tugas. Sungguh, aku tidak ingin sedikitpun mengganggu dirimu. Maafkan diriku hanya bisa berusaha untuk menyimpan semua rasa yang telah ada. Aku ingin rinduku senantiasa kau rindukan dalam wajah teduhmu. Untukmu seseorang yang aku rindukan, ijinkan aku menyebut namamu dalam setiap doaku agar Tuhan segera mengobati pedihnya goresan luka rindu ini dengan bertemu. Tuhan, ku ikhlaskan rinduku.

Sabtu, 21 Mei 2016

Hari Penjemputan

Sabtu, 21 Mei 2016.
Tepat 6 minggu terhitung sampai hari ini aku dan teman-teman telah melakukan Praktik Klinik Kebidanan (PKK) III di RSIA Adina Wonosobo. Alhamdulillah target mendapatkan 62 kasus kebidanan telah selesai. Mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir sampai gangguan reproduksi. Sedih dan senang aku lalui bersama teman-teman. Jika ditanya ilmu kami sudah banyak? Tentu belum ada apa-apanya, kami masih haus akan ilmu. Setidaknya selama kami praktik disini ilmu kami telah bertambah misal yang semula tidak tahu CTG, tindakan curetage, EV dan Sectio Caesarea, selama 6 minggu kami telah mempelajarinya.

Terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kesabaran dan kesehatan kepada kami semua. Terimakasih kepada direktur RSIA Adina, dr. Sudarni, M.Kes. Kepada Ibu Agung, pemilik RSIA Adina. Terimakasih dr. Kumoro, dr. M. Nur Adintyo Rahman,SpOG, dr. Tedjo Sujatmiko,SpOG,  dan tim OK RSIA Adina. Terimakasih dr. M. Nurhadi Rahman,SpOG yang  telah meluangkan waktu untuk ngajarin cara baca CTG untuk persiapan presentasi kasus, meskipun belum selesai dan endingnya cari di google karena bokong bayinya telah crowning dan harus ditolong oleh dokter. hehehe.

Terimakasih Ibu Wahyu selaku kepala bagian diklat RSIA Adina. Seluruh senior-senior bidan dan perawat, terimakasih banyak atas semua ilmunya. Terimakasih CI kami yang murah hati, Mbak Mei Handayani, Amd.Keb dan Hana Lufita Dewi, Amd.Keb. Terimakasih telah sabar membimbing kami. Kepada mbak dan mas farmasi, rekam medis, ibu-ibu ahli gizi yang tidak pernah membiarkan kami kelaparan (kalo masih lapar jajan lagi soalnya), dan kepada bapak-ibu pemsar dan RT yang sering ngaterin air galon ke asrama dan meyiapkan kebutuhan asrama. Terimakasih.

Kalo ngomongin asrama, aku jadi ingat Pak Mus. Bapak kami diasrama yang jagain kami untuk bermalam, menikmati dinginnya Wonosobo di asrama. Bapak yang bawain makanan untuk sarapan pagi kami di asrama. Terimakasih Pak Mus, sehat dan panjang umur ya pak.

Khususnya kepada temen-temen seperjuangan Putri Puji Sudiwiyani, Pradita Novianastasya, Efvina Goemawati, Cintya Bunga dan Urifah, terimakasih banyak ya teman-teman, kita saling support untuk nulis askeb, saling bilang "sabar ya" setiap kali hati kesel, saling bilang "makan yuk" kalo makanan udah siap, saling bilang "udah solat belum? solat dulu yuk".  Kalian benar istimewa.  Meskipun terkadang ada perbedaan pendapat, tapi ini hidup kita teman-teman. Ini proses kita. Aku akan merindukan kalian semua. Begitu juga aku akan merindukan Wonosobo yang memiliki RSIA Adina dan dengan orang-orang hebatnya. 

Alhamdulillahirrabbil'alamin. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua. Doa kita semua semoga RSIA Adina semakin sukses dan jaya. Aaminn. Selamat tinggal Wonosobo Asri.

Setelah Presentasi Kasus di RSIA Adina Wonosobo

 Preeklamsia Cluster
Sepsis Puerpuralis Cluster (Mbak Dita belum dateng masih persiapan SC di OK)

Di Alun-alun Wonosobo