Tulisan ini saya dedikasihkan
untuk temanku tercinta (cieee). Untuk Astri sePurwitasari,
Siska Amali aah, Riri Ardiyati Yoma Belis aah, dan juga untuk everyone special yang berkiprah dalam perjalanan kami.hehe. Yaps maafkan daku baru bisa nge post sekarang.
Semoga sejarah ini terpatri dalam hidup kalian. Uhuk uhuk.
Beberapa waktu yang lalu tepatnya
14 Januari 2014, saya dan tiga orang kawan yang hari itu tergabung menjadi “4
sekawan” (bukan grup lawak lho), melakukan perjalanan panjang sepanjang jalan
kenangan. Sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang
jalan kenangan kau peluk diriku mesra. (Duh malah bernyanyi). Coba bayangkan
panjang banget kan. Kami mempunyai tujuan ke Lereng Barat Gunung Lawu tepatnya
di dusun Nglorog, Kabupaten Karanganyar. Suatu Desa yang asri, sejuk, nyaman
dan masih kental dengan budaya masyarakat desa yang ramah, sopan dan rasa
kekeluargaan yang sangat erat didalamnya. Desa yang sangat bersejarah dalam
hidupku di bumi Allah ini. Desa yang sangat kucinta dan tak kan pernah hilang
dari kalbu.
First Day
Suatu perjalanan yang anti mainstream banget menurutku. Kami
berangkat menunggang kuda.hehe. Bukan, bukan, sungguh kami naik bus. Aku tau
teman-temanku jarang bahkan hampir tidak pernah naik alat transportasi jenis
ini, mereka terbiasa naik sepeda motor dan mobil untuk bepergian, dan untuk
keluar kota mereka biasa naik pesawat, helikopter, ataupun semacamnya dan baru
lusa kemarin mereka pergi ke Bali naik elang (pinjem dari sinema laga indosi**).
haha. Ini adalah tantangan yang besar bagi mereka. Perjalanan bersama berawal
dari Terminal Giwangan Yogyakarta. Kami sempat kebingungan sebelumnya. Bagaimana
caranya kami bisa menuju bus yang akan menghantarkan perjalanan kami. Agak
tidak percaya diri sih, aku ingat-ingat lupa dan ketiga temanku mengaku tidak
tahu sama sekali. Sampai akhirnya kami menemukannya. Kami putuskan naik bus
patas jurusan Surabaya. Ada 4 kursi kosong dibagian belakang, 2 sejajar
berderet dan 2 lagi terpisah. Silahkan teman untuk memilih kursi. Riri dan
Astri duduk bersama, Aku dan Siska duduk berpisah namun berdekatan. Semua siap
dan kami pun berangkat.
Selain duduk didekat Siska, aku
juga duduk dekat seorang laki-laki, sepertinya dia seorang mahasiswa juga yang
tujuan nya ke Surabaya. Dia sempat menyapaku dan asyik mengotak-atik laptopnya.
Sengaja aku mengamati gerak geriknya tentu tanpa sepengetahuannya. Ia mulai
bertingkah, laptop dimatikannya, kakinya diangkat kekursi tempat ia duduk,
ditutupnya muka dengan jaket miliknya dan ganti ia bermain dengan handphone
miliknya. Aku mulai illfeel dengannya, belum lagi aroma jaket yang ia kenakan.
Beuh, baunya sesuatuh. Aku rasa penggunaan parfum yang berlebihan bercampur
dengan keringat, senyawa kimianya akan berikatan sehingga menimbulkan senyawa
baru yang aroma sangat tidak mengenakkan. Saranku jika kalian bepergian apalagi
naik kendaraan umum jangan menggunakan parfum yang aromanya menyengat dan
berlebihan. Hal itu sangat mengganggu orang disekitar kalian. Walaupun begitu
aku tetap berlaku biasa.
Aku menikmati perjalanan, kulihat
Riri dan Astri memejamkan mata dan saling bersandar. Siska? Oh Siska, inilah
yang dikhawatirkan. Dia mulai mabuk (bukan karena oplosan miras lho). hehe. Dia
muntah-muntah, untunglah banyak membawa persediaan kantong plastik dan tissu.
Dan apa yang terjadi dengan laki-laki yang disebelahku tadi, untuk kedua
kalinya ia menyapaku dan berkata “mbak-mbak, bawa kantong plastik lebih
nggak?”. Duh, kubuka kantong plastik berisi makanan milik Riri dan kujadikan
satu. Kuberikan kantong plastik itu. Dan muntah-muntahlah ia sejadi-jadinya.
“hemm, mas mas. Udah saya tebak. Tingkahmu itu seperti menahan mabuk. Dan
akhirnya kamu menyerah. Lain kali jaketnya dicuci ya mas, aromanya bikin perut
kamu berkontraksi lebih parah daripada hanya karena guncangan bus saja.” kataku
didalam hati. hehe. Lalu dia berkata kepadaku “Terimakasih ya mbak” dan aku
menjawab secukupnya.
Akhirnya bus berhenti menurunkan
penumpang di Terminal Tirtonadi Solo. Yups, kita sudah sampai di Solo kawan.
Perjalanan hanya sekitar dua jam. Kami turun dan Siska melanjutkan mabuknya di
terminal. Aku memijat pundaknya agar dia lebih rilexs dan bisa mengeluarkan apa
yang mau ia keluarkan. Sementara itu Astri dan Riri menepi dan ternyata malah
curhat sama calo taksi. Rupanya Astri ngajak naik taksi nih. Ini percakapan
yang telah disarikan.
Aku katakan kepada mereka, “Niat
kita dari awal kan kita mau belajar. Katanya kita mau mandiri, kita mau
merasakan gimana sih rasanya orang-orang itu naik bus, masa sih kita mau
menyerah. Ayo semangat, tinggal dikit lagi nyampai kok. Tapi terserah deh, gimana
yuk baiknya”.
Riri pun angkat bicara “ Iyalah
As, nanti boros kalau naik taksi, kita kan mau hemat. Emang masi berapa lama
lagi si Ulfa?”.
“Kita harus naik bus dua kali
lagi” kataku tersenyum sambil menahan tawa dalam hati.
Merekapun pada melongo dan
bertanya-tanya.
Disela-sela pertanyaan yang ia
tanyakan kepadaku, Astri nyeletuk “Ulfa kamu kok kuat banget sih. Nggak sakit
atau mabuk gitu” kata Astri kepadaku.
Aku hanya tersenyum kepada mereka dan dalam hati aku
berkata ”jika aku ikut lelah dan tidak kuat, siapa yang akan menguatkan kalian
kawan. Walaupun aku merasa lelah ataupun sebagainya, tidak akan aku perlihatkan
kepada kalian agar kalian bisa kembali dan tetap kuat seperti sedia kala”. Semangat
girls!!
Setelah melakukan musyawarah yang
panjang, akhirnya kami memutuskan untuk tetap naik bus. Bus jurusan Tawangmangu
yang akan menurunkan kami di Terminal Karangpandan. Lagi-lagi tempat duduk kami
terpisah, formasinya sama seperti kami berada dalam bus dari Jogja menuju Solo.
Suatu hal yang membuatku lega adalah melihat Siska bisa tidur pulas bersandar
pundak ibu-ibu dengan tanpa rasa berdosa sama sekali sampai-sampai ibu tersebut merasa tidak nyaman untuk duduk. Namun sebaliknya Namanya juga orang tidur,
tidak ingat apa-apa untuk sejenak.
Ini bukti yang sangat konkrit.
Sampailah kami di Terminal
Karangpandan. Kami disambut dengan guyuran hujan dan mulai merasakan dinginnya daerah
pegunungan. Kami menembus hujan untuk menuju bus yang akan kami tumpangi. Yups,
bus terakhir menuju lokasi. Bus menurunkan kami dipertigaan, kami tinggal jalan
sekitar 10 meter saja.
Alhamdulillah tibalah kami di
Penginapan Citra Indah. Dahulu sebuah rumah pribadi dimana aku dan keluarga
besarku berkumpul, bercengkrama dan bermusyawarah bersama. Rumah bersejarah
dari simbahku tersayang, yang kini menjadi hak milik dan difungsikan oleh Omku yang
ganteng sebagai penginapan. Siapa saja keluarga yang mau rehat dan bermalam disana
dipersilahkan. Untuk teman-teman yang mau kesana juga dipersilahkan. Bilang aja
teman Ulfa. Terus kenapa kalo bilang temannya Ulfa? Bisa gratis ya? Ya enggak
juga sih..haha.
Disana kami disambut oleh
karyawan yang menunggu penginapan itu dan ditunjukkan kamar yang sudah aku
pesan sebelumnya lewat tanteku. Kunci kamar diserahkan kepadaku dan kami
melepas lelah secukupnya. Tempat tidur dan kamar mandi yang selama ini kami
cari telah didepan mata. Umiku berpesan jika membutuhkan apa-apa jangan sungkan
untuk bilang atau bertanya kepada mas Wahyu, salah seorang karyawan yang baik. Alhasil
kami sering juga minta bantuan mas Wahyu. Hehe.
Kami pun mengeluarkan barang
bawaan kami, seluruh pakaian ditata rapi dilemari, makanan minuman berjajar
layaknya toko kelontong. Sesuatu yang sangat anti mainstream untuk yang kedua
kalinya yaitu yang 3 orang temanku bawa juga saat liburan adalah sembako, ada
beras, mie instan dan satu lagi tempe bungkus.. Hahaha. Absurd banget. Dikira
disini nggak ada toko kali ya, padahal banyak toko dan tempat makan yang dekat,
lagi pula dipenginapan juga sudah ada gitu kan bahan makanan dan sekaligus alat
masaknya. Tapi kenapa juga mereka tidak membawa minyak goreng ataupun
perlengkapan memasak gitu kan. Andai saja di penginapan tidak disediakan
seperti yang mereka bayangkan itu, haih gimana coba mau masaknya. Haha. Tapi
aku bersyukur banget, mereka tidak membawa itu semua (perlengkapan memasak). Nggak
bisa ngebayangin gimana bawanya di bus gitu. Haha. Dikira kemah di hutan hutan
kali yak. Ini kita bakal berlibur dipenginapan milik omku kawan. Seperti
dirumahku, anggap seperti itu.
Second Day
Agenda hari ini kita jalan jalan
ke dua obyek wisata. Pertama kita jalan ke sebuah candi. Candi Sukuh namanya. Terletak
di Lereng Barat Gunung Lawu dengan ketinggian 951m dpl. Konon candi ini
merupakan simbol kesuburan. Ada sebuah relief dimana jika ada seorang wanita
yang melompati relief ini dapat mengetahui tentang keperawanannya. Kami menuju
lokasi dengan jalan kaki. Menurutku tempatnya tak begitu jauh, butuh waktu satu
jam untuk sampai di sana dengan jalan kaki. Jalan yang berliku, penuh tanjakan
dan pemandangan indah yang disuguhkan. Aku rasa suatu hal baru bagi teman-teman
dan semoga tidak terasa lelahnya. Tapi sepanjang jalan mereka selalu bertanya “
masih jauh nggak?” begitu berulang kali, tandanya ini jauh dan melelahkan bagi
mereka. Tapi aku lihat semangat mereka masih membara apalagi setelah bertemu
dengan ibu-ibu yang sudah lanjut usia menggendong kayu dipunggungnya yang telah
ia dapatkan dari hutan. Mereka terlihat semangat, tetap terenyum dan menyapa
kami dengan logat khas orang pegunungan. Ada beberapa ranting kayu yang
berjatuhan dan aku datang untuk membantu mengambilkannya. Ini bukti bahwa
sebenarnya kebahagiaan adalah sesuatu sangat sederhana. Tergantung bagaimana
kita bisa bersikap bersyukur dengan apa yang kita hadapi sehingga kebahagiaan
itu tercipta.
Lelah kami terbalaskan dengan
setibanya kami disana, pemandangan dari atas yang sangat asri ditemani hujan
dan angin yang membuat kami kedinginan setengah mati. Berarti setengah hidup
dong. Hehe.
Kami jalan-jalan dan menghampiri
setiap relief yang ada. Jeprat-jepret, lenggok sana lenggok sini, gaya ini gaya
itu, ya fitrahnya wanita suka bergaya dan mengabadikan setiap moment bersama.
Sebenarnya juga bukan hanya wanita saja, lelaki juga sama.
sweet
mencari sinyal dengan tower pribadi.
Dirasa cukup dan hujan semakin
lebat disertai angin yang cukup kencang, kami berteduh didekat loket. Bisa
dibayangkan betapa dinginnya waktu itu. Semua menggigil dan yang paling parah adalah
Riri. Sebenarnya aku khawatir dengan hipotermia yang dialami Riri, teringat
juga kisah seniorku saat hiking ke Puncak Gunung Lawu ini hampir saja nyawanya
melayang karena hipotermia. Dengan bercanda kami juga menyalahkan Riri, pertama
diantara kami yang paling kurus dan tak memiliki banyak lemak adalah Riri,
secara lemak adalah suatu senyawa hasil perombakan glukosa, untuk percadangan energi
yang digunakan saat kondisi darurat, hehe. Ya misal pada kondisi kedinginan
seperti ini atau saat dikejar anjing.haha, jadi ingat dosen Biologi. Kedua dia
tidak memakai jilbab yang seharusnya wajib ia kenakan.
Untunglah kami segera memutuskan
untuk meneruskan ke obyek wisata ke dua yakni Air Terjun jumog yang letaknya
tidak jauh dari Candi Sukuh. Sekitar 5 km dibawah Candi. Untuk masuk dikedua
obyek wisata tadi, tidak dibutuhkan biaya tiket yang mahal, mungkin hanya
Rp.3000.00 atau Rp.5000.00 saja. Dan berlaku gratis untuk kami berempat.hehe.
Pesona alam yang indah dan masih asli. Namun memiliki banyak sekali perubahan
dari awal-awal dahulu aku datang kesana. Karena aku sudah pernah merasakan dinginnya
air terjun maka aku memutuskan untuk tidak main air ataupun basah-basahan. Biar
aku yang jadi fotografer dan penjaga tas saja. Hehe.
Welcome to Air Terjun Jumog
Tapi tidak terlalu lama kami
bermain, karena sudah sangat kedinginan kami langsung meninggalkan tempat dan
pulang tanpa ganti pakaian (berarti pulang dalam keadaan basah nih). Nggak usah
dibayangin! Untuk pulang kami harus jalan kaki lagi sebelum bertemu dengan kedua
kakak sepupuku yang datang untuk menjemput kami. Menikmati jalan yang exstrem
dengan satu motor untuk tiga orang. (3 in 1).
Sampai dipenginapan kami langsung
bebersih diri, kecuali aku yang harus menemani kedua kakak sepupu dan umiku
yang datang untuk mengobati rasa rindu. Terimakasih ya Mbak Dian dan Mas Tony
udah mau datang nemuin si Upil. Setelah umi dan kedua kakakku
pulang, aku melanjutkan bergabung dengan teman-teman dikamar. Waktu malam kami,
kami habiskan untuk nonton TV, belajar masak (goreng tempe yang asinnya
selaut), liat pemandangan waktu malam yang indah seperti diluar angkasa (lebay
kalo ini) walaupun hanya dari dapur, dan berbagi kesan-kesan selama 2 hari ini.
Third Day
Acara hari ini bersantai ria.
Menikmati dingin dan rintik hujan. Rencana kami, siang ini pergi ke Kebun Teh
Kemuning. Sebelumnya aku pergi kerumah Mas Dony (kakak sepupuku yang lain)
untuk pinjam motor. Untung rumahnya cukup dekat. Sementara itu teman-teman
sudah siap-siap dan nungguin aku sambil narsis foto-foto di teras depan. Aku
datang dan langsung berangkat. Sesampainya disana kami disuguhkan pemandangan
kebun teh yang luas nan hijau. Indah, segar dan ploong(maaf bukan promosi
permen). Kami puaskan untuk hunting foto disana.
Sesudah merasa cukup, kami pulang dan rehat di warung soto kare dan mencari buah tangan untuk orang-orang dirumah Jogja. Kami kembali ke penginapan. Disana ada umiku dan kami duduk bersama bercerita tentang apa yang dapat kami ceritakan.
Ini nih hasilnya
Sesudah merasa cukup, kami pulang dan rehat di warung soto kare dan mencari buah tangan untuk orang-orang dirumah Jogja. Kami kembali ke penginapan. Disana ada umiku dan kami duduk bersama bercerita tentang apa yang dapat kami ceritakan.
Malam ini malam terakhir kami
liburan bersama disini. Teman-teman udah packing rapih. Sedangkan aku masih
santai, aku berniat pakaianku ku tinggal disini karena belum kering dan lusa
aku akan kembali lagi. Ada yang sedih juga bakalan ninggalin tempat ini. Kata
teman-teman “aku bakalan kangen sama tempat ini”(uh uh cup cup). Aku merasa
masih kangen juga, apalagi setiap sudut ditempat ini memiliki cerita tentang
aku dengan orang-orang tersayang. Sudahlah.
Last Day
Bangun pagi-pagi. Membereskan
banyak hal yang perlu dibereskan. Tas-tas sudah dikeluarkan dari kamar. Kami
berpamitan kepada Umi(yang waktu itu mampir sepulang dari Madrasah) dan kepada
kedua karyawan yang di penginapan, Mas Wahyu dan Mas Yoga.
Kami menunggu ditepi jalan depan
penginapan, kebetulan dari jalan atas bus datang menghampiri kami. Baru
menjatuhkan pantat di tempat duduk, rupanya teman-teman sudah membicarakan mas
Wahyu. Wajar juga sih, denger-denger beliau nya anak lulusan pondok, orangnya
baik, putih, bersih, pemalu (katanya sendiri) dan ganteng juga kalo kata temenku. Haha.
Masyaallah, ternyata baru bisa mengungkapkan perasaan yang terpendam selama ini, dan
sudah terlambat karena kami sudah perjalanan pulang. Mereka pada nitip salam tu
buat mas Wahyu dan sudah aku sampaikan juga saat aku kembali kesana untuk mengambil
pakaianku yang aku tinggal. Kata dia “salamnya berapa ikat mbak? Salam balik
aja deh”. Hehe, puas tu temen-temen udah dapat salam balik dari pujaan hatinya. Awas ya kalo suruh
balikin lagi.
Dan lebih cepat dari perjalanan
berangkat, kami telah tiba lagi di Kota Jogja. Alhamdulillah selamat dan sehat.
Semuanya terhindar dari yang namanya mabuk darat. Yeeeess!! Congratulation
girls!! Kalian lulus diliburan kali ini. Semoga barakah dan dapat mengambil
pelajaran dari perjalanan ini. Mohon maaf jika Ulfa banyak salah dan keliru,
misal sering bilang katanya deket ternyata jauh dan sebagainya. Ternyata jauh
dekat itu relatif juga ya. Setiap orang memiliki penilaian dan paradigma
masing-masing.


