Well, ,
Ini adalah kisah nyata guys. .
Unce upon a time. . .
###
JREEEEEEEEEEEEEEEEEEENG###
Siang-siang gemelontang, aku dan 1,2,3,4,5, 6 temenku datang disuatu lokasi. Daerah
para ******(tuuut). Tujuan kami begitu mulia ingin membantu tugas mereka dan
belajar dari mereka. Kami datang dengan berjuta rasa. Salah duanya ada rasa cemas
bila tak diterima dan rasa bahagia jika bisa diijinkan untuk berbaur dengan
mereka. Satu persatu kami berjabat dengan mereka. Beberapa dari mereka sedang membaca
koran dan hanya menyodorkan tangan kakunya. Seperti orang yang tidak niat
berjabat tangan. Tapi kami berusaha untuk tetap tersenyum, berlaku ramah dan
sopan. Kami sadar, kami hanya pendatang.
Ada perwakilan dari kami menyampaikan tujuan kedatangan kami kepada salah seorang
laki-laki muda setengah tua dan menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi
data kami.
“ya, diterima. Silahkan menyesuakan diri” katanya singkat
dan dengan wajah datar seperti mistar. Tak kutemukan sekilatpun senyuman diwajahnya.
Beliau mungkin sudah bangga dengan badannya yang tegap dan perkasa, sehingga berlaku
seperti itu. Tidak begitu menganggap bahkan menghormati anak muda. Panggil saja
dia Pak M ( Pak Mistar).
Dalam hatiku gregetan, jengkel-jengkel pengen jotos. Tapi
tetep terseyum, setidaknya bakal bebarengan sama beliau-beliau selama Lima
hari. Waktu yang tidak sebentar. .
Ada sesi foto-foto siang itu. Kami memberikan senyuman
termanis kami dan apakah kalian tahu apa yang diberikan Pak M?? Wajah datarnya.
(Sampai sekarang pun aku masih menyimpan fotonya yang bikin
gemes itu)
Kami berusaha menyesuaikan diri dengan mereka. Kulihat Pak M
meninggalkan tempat duduknya dan masuk dalam sebuah ruangan meninggalkan kami.
Diam seribu bahasa. Tidak tahu apa yang harus kami lakukan dan apa yang harus
kami bicarakan. Dan mereka yang lebih tua juga tidak berkata-kata apalah untuk
mengarahkan kami. Semua bingung. Hari pertama, rasanya pada pengen segera
pulang. Kulihat Pak M mengambil helm dan motornya, mungkin dia pulang.
Hari kedua, ketiga, keempat aku tak berjumpa dengan Pak M.
Kemana dia?? We dont know.
Tiga hari
berturut-turut kami hanya menemui beberapa orang yang juga teman Pak M yang
memiliki sifat berbanding terbalik dengan Pak M. Tapi awal mulanya memang mereka
cuek bebek, gak peduli banget. Tapi kami tetap berusaha berbaur dengan mereka
dengan senyuman kami. Merekapun mulai menunjukkan respon yang baik. Dia mulai
mengomentari kami, mulai mengajari kami, beramah tamah dengan kami dan
menanyakan tentang diri-diri kami. Beliau terlihat begitu saling menghormati. Bahkan
beliau-beliaupun tadi ketika hendak pulang saja, menyempatkan berpamitan dengan
kami. . Busyet. . Siapa kita. . Tapi itulah, bukti menganggap kami ada. .
Hari kelima, kami harus menghadapi Pak M lagi. Masihkah dia
garang??? Tentu. .
Beberapa temanku malah juga membalas keegoisan dan
kegarangan Pak M dengan perlakuan yang sama.
Tapi hari ini hari terakhir bagi kami bersama mereka. Tentunya
aku tidak akan menyia-nyiakannya. Memang sudah cukup banyak pelajaran dan
kesimpulan yang dapat kami ambil dari tempat itu.
Di siang bolong juga, kami harus melakukan tindakan disuatu
lokasi. Dan aku mau tidak mau harus bersama Pak M. Dengan gundah gulana, aku
mengikutinya. Aku membantunya semampuku saja. Lebih sering aku diam dan
mengamatinya. Tentunya aku tetap tersenyum ketika memandangnya. Aku tak peduli
apa yang dipikirkan Pak M tentang kami. Yang pasti aku telah berkomitmen dengan
tetap tersenyum dan berlaku ramah terhadap mereka dan siapa saja. Keadaan aman,
tugas kami hampir selesai. Pak M berdiri ditepi jalan. Aku masih memandangnya.
Dan apa yang terjadi dengan Pak M, ditengah panasnya terik matahari siang itu.
Dan aku tidak akan melupakan peristiwa itu, apapun yang terjadi.
S e e e e e e e e e e e e t. . . . . .
Pak M menengokkan kepalanya,
Melihatku,
dan tersenyum.
LEGA aaaaaaaaa. .
Akhirnya beliau bisa tersenyum juga. .
Subhanallah lebih indah dipandangnya dan menyejukkan hati. .
DOOOR
Semenjak itu, beliau malah lebih dekat denganku, selalu
bertegur sapa jika bertemu, tersenyum tanpa aku meminta, dan tak jarang memberikan
nasehat-nasehat yang bermutu. Pokoknya mantab. . Perubahan yang signifikan dari
awal bertemu.
Mungkin ini tidak didapatkan oleh beberapa temanku yang
tidak sabar dengan perlakuan Pak M terhadapnya. Mereka lebih memilih
mengimbangi / mengikuti kekakuan, keangkuhan dan keegoisan Pak M.
Itulah sahabatku, kita bisa belajar dari kisah diatas.
Seseorang yang memiliki sifat kaku, angkuh, egois terhadap
kita tetapi ketika kita tidak membalasnya dengan hal yang sama namun
membalasnya dengan perlakuan yang lebih baik akan membuahkan hasil yang baik
juga.
Thank you Pak M.
Ku doakan, Semoga engkau bahagia bersama istri dan keluarga.
Dan cepat dikaruniai buah hati.
*aku banyak belajar darimu*