Kamis, 17 April 2014

Jalan Hidup

Jalan demi jalan menghubungkan kita dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya. Setiap jalan memiliki karakter yang berbeda. dari jalan yang lurus, berbelok-belok, bercabang,  menanjak, jalan yang menurun curam, berlubang, berbatu bahkan berlumpur.

Sebagai pengguna jalan, kita memiliki sikap masing-masing dalam menghadapi setiap jalan yang kita lalui. Misal ketika kita melewati sepanjang jalan yang lurus, mulus, tak berlubang, tak berlumpur. Betapa kita begitu menikmati dan memujinya. Kita berada dalam zona nyaman. Zona dimana kita bisa bersantai dan tak acuh dengan pengguna jalan yang lain saat diperjalanan. Mungkin kita berfikir hanya kecil resiko yang dapat terjadi bahkan tidak ada. Namun sebetulnya, nyaman dan santai itulah yang melenakan. Misal semua pengguna jalan berfikir pada hal yang sama. Apa yang akan terjadi dijalan yang lurus, mulus dan tak berlubang itu? Resiko itu tetap ada.

Sebaliknya, ketika kita melewati jalan yang berliku, berbatu, dan begelombang. Tidak jarang kita mengeluh dan memaki. Merasa risih dan tidak nyaman. Namun sesungguhnya, lubang lubang dijalan itu sebagai alarm semesta. Bahwasannya kita harus siaga dan tidak boleh lengah ketika dalam perjalanan. Lubang-lubang itu memberi peringatan bahwa didepan sana masih ada lubang-lubang yang menanti kita. Sehingga ketika kita menjumpai lubang-lubang selanjutnya kita bisa dengan baik menghadapi dan menaklukkannya.

Hal ini analoginya dengan kehidupan manusia di bumi ini. Bahwa dalam perjalanan hidup manusia tidaklah sama antar individu satu dengan individu yang lainnya. Perjalanan hidup manusia tidak lah selalu mulus dan atau tidak selalu bergelombang penuh ujian. Ketika manusia dalam zona nyaman jangan pernah lengah, karena Allah memberi ujian kepada hambanya dengan bentuk kebaikan dan juga dengan suatu yang buruk. Jangan pernah berhenti bersyukur, ketika dalam zona yang nyaman, tetaplah peduli dan jangan bakhil.

Sama halnya ketika manusia sedang berada pada jalan yang terjal. Bahwasannya Allah telah memberinya ujian dan menyiapkannya pada sesuatu yang lebih baik. Ujian yang ringan terkadang menjerumuskan manusia ke zona lebih buruk dari zona yang sedang dijalaninya. Padahal Allah hanya memberi ujian yang ringan dan ketika manusia lulus dalam ujian itu, Pasti ia akan lebih siap dan lebih baik dalam menaklukkan ujian yang mungkin lebih berat pada masa yang akan datang.

Tetaplah bersyukur dengan apa yang kita miliki hari ini. Lihatlah keatas untuk sebuah motivasi dan perjuangan. Lihatlah kebawah agar kita mampu mensyukuri apa yang telah kita miliki.

Kamis, 10 April 2014

Secuil Fakta tentang Pemilu

Hallo, common ca va? Semoga pada sae-sae aja. Kalo aku sekarang lagi bengek nih. Suaraku jadi ngembang, guede gitu. Berasa kemana mana bawa microfon. Ingat microfon bukan microwave.. You know?
Olala, habis pada nyoblos kan ye?
Gimana udah lega dan puas dengan hasilnya?
Btw, engga pada golput kan? atau malah golhit? engga juga kan? musrik tauk.
Tau kan kalo pemuda itu harus berwarna ? OKe..

Cerita tentang pemilu kemarin. Aku udah dapet hak pilih loh. Udah bisa nyoblos di TPU eh TPS maksudnya. iya, seneng sih. Sebagai warga negara yang baik, kita harus ikut menggunakan hak pilih kita kan. Nyoblos siapa kemarin hayo? itu privasi masing-masing sih. Aku sih nyoblos kumisnya.hoho

Pengalaman pertama jadi peserta pemilu kemarin aku juga dapat amanah buat jadi relawan/ saksi DPD Dapil Jogja dari kubunya pak M.Afnan Hadikusumo. Beliau adalah putra terbaik Muhammadiyah. Gitu.
Seharian aku jadi mengamati apa yang terjadi di TPS di dekat rumahku. Dari mulai para peserta pemilu pada datang menuju KPPS 1 buat menyerahkan undangan dan registrasi hingga mencelupkan salah satu jarinya ke tinta biru sebagai tanda bahwa mereka sudah menggunakan hak pilihnya. Yuhuuu.

Dari hasil pengamatanku selama 13 jam, aku menemukan beberapa fakta:
1. Saat waktu pemilu tiba, disini kita bisa menemukan atau melihat anak-anak yang berbakti kepada orang tuanya. Misal gini, seorang lansia dia datang ke TPS bersama anaknya. Anaknya dengan sabar menuntunnya menuju satu per satu meja KPPS, ke bilik suara (bantu nyoblos dan melipat kembali surat suaranya), sampai proses akhirnya nyelupin salah satu jarinya ke tinta. Yups. Jika bukan anak yang solih, mungkin orang tuanya akan dibiarkan golput begitu saja. Subhanallah. keren ya.
2. Ada satu caleg yang lucu. Lucu aja sih, segitu absurdnya. Jadi gini, kemarin itu ada simbah simbah yang sedang duduk di dekat TPS, terus calegnya bilang "mbah, jangan lupa lho. coblos aku ya?" yang bahasa gaulnya gini "mbah, ojo lali lho! nyoblos aku!" dengan sigapnya simbah itu jawab " iyo iyo, sing abang to?" haha.. mbah mbah..
3. Ada peserta pemilu yang ngeyel dan mengeluh. Engga mau kalo jarinya dicelupin ke tinta. Hampir mau kabur gitu dianya. Engga habis pikir, kenapa sih harus engga mau? kan jarinya cuma kena tinta. Toh juga cuma sedikit. Kalaupun dicuci pakai sabun juga udah hilang. Buktinya aku, barusan aku liat dijari kelingkingku juga udah hilang. Huh. Sampai sampai beliaunya bilang "biar apa to? kan engga juga kalo mau nyoblos lagi!!" kalo bahasa gaol nya gini "Ben ngopo to? Lak yo ora nyoblos meneh!!". Beliaunya bilang dengan ketus sambil berlalu gitu aja. Gedebuk gedebuk gedebuk.
4. Lagi. Pemilu sebagai ajang silaturahmi. Aku menemukan banyak KPPS yang baik dan sabar. Apalagi ayahnya seniorku. Aku bertemu beliau disana. Beliau super sabar dan bisa ngertiin aku banget. Cie.. biasa aja sih.. #aku masih normal
etc.

Tarik nafas panjang. Tahan. Buang. Buang nafasnya aja men! jangan buang muka!
Jadi gitu deh tentang pemilu story versi Upil..
Semoga Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang amanah dan dapat menjadi teladan bagi rakyat nya.

Selasa, 01 April 2014

Musim Potong Rambut

Sore sore gini aku udah istirahat nih dirumah. Pulang dari kampus lebih awal karena jadwal praktikum yang engga terlalu padat. Istirahat bukan berarti bebas dari tugas kuliah. Tugas masih setia sama aku di meja belajar.

Sudah ber jam jam aku duduk di depan meja belajarku. Aku beranjak ke pintu untuk melemaskan otot dan tulangku (emang tulang bisa lemas?). Kutemukan adikku Rizqi mondar mandir didepan pintu. Aku liat dia sekilas, aku syok berat men. Rupanya dia baru potong rambut gitu jadi ala ala Dora. Warnanya tetep item tulen. Karena adekku bukan LKMD (Londo Kok Mung Ndase).hehe. Padahal tadi pagi aku yakin banget masih liat dia dengan rambut panjangnya se punggung. Engga sepanjang itu ding. Mendekati itu. Iya segitu.

Jadi dirumah lagi ada demam potong rambut gitu. Diawali umiku yang pulang dari Solo dengan rambut yang udah dipotong mirip mirip Astrid gitu deh..haha. So, de Rizqi jadi tertarik buat potong rambut, walaupun hasilnya jadi mirip sama Dora. Sebentar lagi adekku Iqbal dan bapak juga pasti akan terbawa arus itu. Yah, kita tunggu saja.

Kembali ke de Rizqi. Dengan tampang engga percaya, aku tanya ke dia " Dek kamu potong rambut? Kapan? " tanyaku dengan mata melotot hampir mau lepas tapi aku tahan dan aku masukin lagi.

Dengan sigap dan berlalu menjauh dariku, dia menjawab dengan singkat "Kemarin!!"

Hening.