Selasa, 01 September 2015

Via dan Jilbabnya

Siang itu perutku keroncongan, maklum dari pagi aku belum sarapan. Walaupun aku bukan anak kos, tapi aku sering telat makan.  Aku mengajak temanku Via, untuk makan didepan kampus setelah aku menyelesaikan tugasku diperpustakaan. Kami memesan makanan dan minuman yang berbeda. Oh ya, hari itu juga dikampus sedang ada acara gladi bersih untuk acara wisuda kakak tingkat yang akan digelar di JEC minggu depan. Secara tidak sengaja, kita makan bersama dengan beberapa dari mereka. Terlihat jelas diraut wajah mereka, mereka sangat bahagia menantikan waktu wisuda yang  sudah didepan mata. Sesekali kita menyampaikan beberapa keinginan kita tentang wisuda, seperti mau ditemani siapa saat wisuda nanti, “duh bakalan dapat bunga nggak ya? Dari siapa?”, dan lain sebagainya.
Sambil menikmati makan siang, Via bercerita bahwa di kos tempatnya tinggal sedang penuh tamu dari keluarga kakak tingkat yang datang untuk menyaksikan wisuda mereka. Via menunjukkan beberapa foto kondisi kos nya kepadaku agar aku lebih bisa terbawa kedalam ceritanya.
Tiba-tiba Via menggumam, “Aku bingung deh fah”.
“Bingung kenapa?”, aku bertanya.
“enggak ah, nggak jadi”, dia menarik lagi perkataannya seakan dia ragu bercerita.
“Hayo ada apa Via, cerita-cerita dong”, aku sedikit mengejar dan memaksa agar ia mau bercerita. Siapa tahu yang mau diungkapkan via adalah hal lucu, sehingga aku bisa tertawa. Karena beban hidup ini berat, aku jadi jarang ketawa.hehe. Aku pikir sih begitu. Tapi.
“Gini fah, aku tuh bingung. Emmm, besok kalau kita wisuda, aku pakai jilbab nggak ya fah?” tanyanya sambil memasukkan sesendok makanan kemulutnya.
“Hah, kenapa begitu Via?”tanyaku heran. Via adalah salah satu temanku yang memakai jilbab. Namun, dia belum mampu sepenuhnya menggunakan jilbab setiap waktu. Setidaknya ketika ia kuliah, ia memakai jilbab dan terlihat lebih cantik. Walaupun aku sendiri mungkin juga masih jauh dari istiqomah tersebut.
“Emm, gini Fah, aku tuh disatu sisi pengen pakai jilbab, tapi disatu sisi aku pengen nggak pakai jilbab”
“Alasannya apa?” Aku bertanya seolah aku tidak terima kenapa dia harus menanggalkan jilbabnya diwaktu wisuda.
“Menurutku tuh kayaknya kalo pakai jilbab tuh kalau pakai toga jadi kelihatan jelek gitu fah” jelasnya kepadaku dengan mantap.
Glodak, Cuma gitu alasannya.
“Ya ampun Via, kalau menurutku itu harus dong pakai jilbab. Masak iya cuma alasan jelek aja kamu mau lepas jilbab. Coba deh Via, lihat kakak tingkat kita yang wisuda pakai jilbab besok. Pasti juga cantik dan akan baik-baik saja” kataku nerocos karena nggak setuju banget dengan alasan itu.
“Iya deh fah, besok aku pakai jilbab”, katanya lirih dengan penuh keraguan dan mungkin dengan sedikit penyesalan karena telah bertanya dan bercerita kepadaku.
Suasana siang itu menjadi hening beberapa detik.

Dear Via ku sayang dan Via Via lain diluar sana yang sedang menyelesaikan tugas akhir dan menanti wisuda. Tidak seharusnya kamu membingungkan sesuatu yang seharusnya tidak kamu bingungkan kawan. Memakai jilbab dan menutup aurat itu hukumnya wajib bagi perempuan muslim. Mari buka kembali Al Qur’an, pedoman hidup kita, QS An Nur ayat  31,, “... Dan hendaklah kamu menutupkan kain kerudung ke dadamu...”. Satu langkah saja anak perempuan keluar rumah dengan membuka aurat maka satu langkah pula kamu mendekatkan ayahmu ke pintu neraka. Naudzubillah. Mari sayangi ayah kita, karena hadiah terindah untuk ayah kita adalah dengan kita sebagai anak perempuannya memakai jilbab/kerudung. Mari kita sama-sama berusaha tetap istiqomah dijalan Allah. Semoga kita bisa wisuda bersama ya Via, dan dihari itu aku melihatmu tersenyum dengan balutan jilbab kebanggaanmu.


Salam
Temanmu yang mencintaimu