Sabtu, 13 Oktober 2012

RAMAH VS GARANG



Well, ,
Ini adalah kisah nyata guys. .
Unce upon a time. . .
### JREEEEEEEEEEEEEEEEEEENG###

Siang-siang gemelontang, aku dan 1,2,3,4,5, 6 temenku datang disuatu lokasi. Daerah para ******(tuuut). Tujuan kami begitu mulia ingin membantu tugas mereka dan belajar dari mereka. Kami datang dengan berjuta rasa. Salah duanya ada rasa cemas bila tak diterima dan rasa bahagia jika bisa diijinkan untuk berbaur dengan mereka. Satu persatu kami berjabat dengan mereka. Beberapa dari mereka sedang membaca koran dan hanya menyodorkan tangan kakunya. Seperti orang yang tidak niat berjabat tangan. Tapi kami berusaha untuk tetap tersenyum, berlaku ramah dan sopan. Kami sadar, kami hanya pendatang. 

Ada perwakilan dari kami menyampaikan  tujuan kedatangan kami kepada salah seorang laki-laki muda setengah tua dan menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi data kami.
“ya, diterima. Silahkan menyesuakan diri” katanya singkat dan dengan wajah datar seperti mistar. Tak kutemukan sekilatpun senyuman diwajahnya. Beliau mungkin sudah bangga dengan badannya yang tegap dan perkasa, sehingga berlaku seperti itu. Tidak begitu menganggap bahkan menghormati anak muda. Panggil saja dia Pak M ( Pak Mistar).

Dalam hatiku gregetan, jengkel-jengkel pengen jotos. Tapi tetep terseyum, setidaknya bakal bebarengan sama beliau-beliau selama Lima hari. Waktu yang tidak sebentar. .
Ada sesi foto-foto siang itu. Kami memberikan senyuman termanis kami dan apakah kalian tahu apa yang diberikan Pak M?? Wajah datarnya.
(Sampai sekarang pun aku masih menyimpan fotonya yang bikin gemes itu)

Kami berusaha menyesuaikan diri dengan mereka. Kulihat Pak M meninggalkan tempat duduknya dan masuk dalam sebuah ruangan meninggalkan kami. Diam seribu bahasa. Tidak tahu apa yang harus kami lakukan dan apa yang harus kami bicarakan. Dan mereka yang lebih tua juga tidak berkata-kata apalah untuk mengarahkan kami. Semua bingung. Hari pertama, rasanya pada pengen segera pulang. Kulihat Pak M mengambil helm dan motornya, mungkin dia pulang.

Hari kedua, ketiga, keempat aku tak berjumpa dengan Pak M. Kemana dia?? We dont know.
Tiga hari berturut-turut kami hanya menemui beberapa orang yang juga teman Pak M yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Pak M. Tapi awal mulanya memang mereka cuek bebek, gak peduli banget. Tapi kami tetap berusaha berbaur dengan mereka dengan senyuman kami. Merekapun mulai menunjukkan respon yang baik. Dia mulai mengomentari kami, mulai mengajari kami, beramah tamah dengan kami dan menanyakan tentang diri-diri kami. Beliau terlihat begitu saling menghormati. Bahkan beliau-beliaupun tadi ketika hendak pulang saja, menyempatkan berpamitan dengan kami. . Busyet. . Siapa kita. . Tapi itulah, bukti menganggap kami ada. .

Hari kelima, kami harus menghadapi Pak M lagi. Masihkah dia garang??? Tentu. .
Beberapa temanku malah juga membalas keegoisan dan kegarangan Pak M dengan perlakuan yang sama.
Tapi hari ini hari terakhir bagi kami bersama mereka. Tentunya aku tidak akan menyia-nyiakannya. Memang sudah cukup banyak pelajaran dan kesimpulan yang dapat kami ambil dari tempat itu.

Di siang bolong juga, kami harus melakukan tindakan disuatu lokasi.  Dan aku mau tidak mau harus bersama Pak M. Dengan gundah gulana, aku mengikutinya. Aku membantunya semampuku saja. Lebih sering aku diam dan mengamatinya. Tentunya aku tetap tersenyum ketika memandangnya. Aku tak peduli apa yang dipikirkan Pak M tentang kami. Yang pasti aku telah berkomitmen dengan tetap tersenyum dan berlaku ramah terhadap mereka dan siapa saja. Keadaan aman, tugas kami hampir selesai. Pak M berdiri ditepi jalan. Aku masih memandangnya. Dan apa yang terjadi dengan Pak M, ditengah panasnya terik matahari siang itu. Dan aku tidak akan melupakan peristiwa itu, apapun yang terjadi. 

S e e e e e e e e e e e e t. . . . . .

 Pak M menengokkan kepalanya, 

Melihatku,

dan tersenyum.

LEGA aaaaaaaaa. .

Akhirnya beliau bisa tersenyum juga. .
Subhanallah lebih indah dipandangnya dan menyejukkan hati. . DOOOR 

Semenjak itu, beliau malah lebih dekat denganku, selalu bertegur sapa jika bertemu, tersenyum tanpa aku meminta, dan tak jarang memberikan nasehat-nasehat yang bermutu. Pokoknya mantab. . Perubahan yang signifikan dari awal bertemu.
Mungkin ini tidak didapatkan oleh beberapa temanku yang tidak sabar dengan perlakuan Pak M terhadapnya. Mereka lebih memilih mengimbangi / mengikuti kekakuan, keangkuhan dan keegoisan Pak M.

Itulah sahabatku, kita bisa belajar dari kisah diatas.
Seseorang yang memiliki sifat kaku, angkuh, egois terhadap kita tetapi ketika kita tidak membalasnya dengan hal yang sama namun membalasnya dengan perlakuan yang lebih baik akan membuahkan hasil yang baik juga.

Thank you Pak M.
Ku doakan, Semoga engkau bahagia bersama istri dan keluarga.
Dan cepat dikaruniai buah hati.
*aku banyak belajar darimu*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar