Siang
itu perutku keroncongan, maklum dari pagi aku belum sarapan. Walaupun aku bukan
anak kos, tapi aku sering telat makan.
Aku mengajak temanku Via, untuk makan didepan kampus setelah aku
menyelesaikan tugasku diperpustakaan. Kami memesan makanan dan minuman yang
berbeda. Oh ya, hari itu juga dikampus sedang ada acara gladi bersih untuk
acara wisuda kakak tingkat yang akan digelar di JEC minggu depan. Secara tidak
sengaja, kita makan bersama dengan beberapa dari mereka. Terlihat jelas diraut
wajah mereka, mereka sangat bahagia menantikan waktu wisuda yang sudah didepan mata. Sesekali kita menyampaikan
beberapa keinginan kita tentang wisuda, seperti mau ditemani siapa saat wisuda
nanti, “duh bakalan dapat bunga nggak ya? Dari siapa?”, dan lain sebagainya.
Sambil
menikmati makan siang, Via bercerita bahwa di kos tempatnya tinggal sedang
penuh tamu dari keluarga kakak tingkat yang datang untuk menyaksikan wisuda
mereka. Via menunjukkan beberapa foto kondisi kos nya kepadaku agar aku lebih
bisa terbawa kedalam ceritanya.
Tiba-tiba
Via menggumam, “Aku bingung deh fah”.
“Bingung
kenapa?”, aku bertanya.
“enggak
ah, nggak jadi”, dia menarik lagi perkataannya seakan dia ragu bercerita.
“Hayo
ada apa Via, cerita-cerita dong”, aku sedikit mengejar dan memaksa agar ia mau
bercerita. Siapa tahu yang mau diungkapkan via adalah hal lucu, sehingga aku
bisa tertawa. Karena beban hidup ini berat, aku jadi jarang ketawa.hehe. Aku
pikir sih begitu. Tapi.
“Gini
fah, aku tuh bingung. Emmm, besok kalau kita wisuda, aku pakai jilbab nggak ya
fah?” tanyanya sambil memasukkan sesendok makanan kemulutnya.
“Hah,
kenapa begitu Via?”tanyaku heran. Via adalah salah satu temanku yang memakai
jilbab. Namun, dia belum mampu sepenuhnya menggunakan jilbab setiap waktu.
Setidaknya ketika ia kuliah, ia memakai jilbab dan terlihat lebih cantik.
Walaupun aku sendiri mungkin juga masih jauh dari istiqomah tersebut.
“Emm,
gini Fah, aku tuh disatu sisi pengen pakai jilbab, tapi disatu sisi aku pengen
nggak pakai jilbab”
“Alasannya
apa?” Aku bertanya seolah aku tidak terima kenapa dia harus menanggalkan
jilbabnya diwaktu wisuda.
“Menurutku
tuh kayaknya kalo pakai jilbab tuh kalau pakai toga jadi kelihatan jelek gitu
fah” jelasnya kepadaku dengan mantap.
Glodak,
Cuma gitu alasannya.
“Ya
ampun Via, kalau menurutku itu harus dong pakai jilbab. Masak iya cuma alasan
jelek aja kamu mau lepas jilbab. Coba deh Via, lihat kakak tingkat kita yang
wisuda pakai jilbab besok. Pasti juga cantik dan akan baik-baik saja” kataku
nerocos karena nggak setuju banget dengan alasan itu.
“Iya
deh fah, besok aku pakai jilbab”, katanya lirih dengan penuh keraguan dan
mungkin dengan sedikit penyesalan karena telah bertanya dan bercerita kepadaku.
Suasana
siang itu menjadi hening beberapa detik.
Dear
Via ku sayang dan Via Via lain diluar sana yang sedang menyelesaikan tugas
akhir dan menanti wisuda. Tidak seharusnya kamu membingungkan sesuatu yang
seharusnya tidak kamu bingungkan kawan. Memakai jilbab dan menutup aurat itu
hukumnya wajib bagi perempuan muslim. Mari buka kembali Al Qur’an, pedoman
hidup kita, QS An Nur ayat 31,, “... Dan
hendaklah kamu menutupkan kain kerudung ke dadamu...”. Satu langkah saja anak
perempuan keluar rumah dengan membuka aurat maka satu langkah pula kamu
mendekatkan ayahmu ke pintu neraka. Naudzubillah. Mari sayangi ayah kita, karena
hadiah terindah untuk ayah kita adalah dengan kita sebagai anak perempuannya
memakai jilbab/kerudung. Mari kita sama-sama berusaha tetap istiqomah dijalan
Allah. Semoga kita bisa wisuda bersama ya Via, dan dihari itu aku melihatmu tersenyum
dengan balutan jilbab kebanggaanmu.
Salam
Temanmu yang mencintaimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar