Minggu, 19 Oktober 2014

Tragedi yang Ku Tunggu

Alhamdulillah di Hari Minggu yang indah, Allah mentakdirkan diriku untuk berjumpa dengan penulis muda yang hebat Raditya Dika.  Banyak yang menanyakan alasan, mengapa aku berpihak padanya. Mulai hari ini, aku yakin dengan jawabanku!

Sudah kusadari hatiku mudah tersentuh. Saat dia menapakkan kaki dipanggung, tepat di depan mataku dia berjalan dia melemparkan senyum kepadaku dan ratusan peserta lainnya. Sangat terasa desiran didada hingga naiklah kemata sampai jatuhlah tetesan-tetesan air mata. Bangga rasanya bertemu dengan dia. Dia yang hanya biasa bisa kulihat dilayar kaca. Dia yang hanya bisa kupandangi fotonya. Dia yang hanya bisa ku mention semua tweetnya. Dia yang hanya ada dalam mimpi-mimpiku dan bunga dalam setiap ceritaku selama ini. Akhirnya aku bisa melihatnya langsung, kalo boleh menyimpulkan dia tampan, muda dan berkarisma.  Suaranya renyah dan bikin pecah. Bagiku kata-kata yang disajikannya enak dan mudah dipahami oleh semua pemuda. Belum lagi dalam baitan kalimatnya, pasti berakhir dengan canda ataupun makna yang dalam. Dia mampu menyampaikannya dengan bahasa anak muda tanpa meninggalkan benang merahnya.

Aku ingin tidak hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Aku berusaha mendekat, mencoba mendapatkan apa yang aku inginkan. Menunggunya keluar dari pintu belakang, setelah acara usai. Apa daya diriku, barisan rapat mengawalnya, dia keluar dengan penutup kepala, tangan melekat didalam saku, mulut terkunci rapat, tapi satu senyumnya takkan terlewat. Oh, aku mengerti rasanya diabaikan. Oh, aku mengerti rasanya tak diprioritaskan. Memang aku kecewa. Menangis disepanjang jalan ketika pulang pun tak bisa ku tahan. Aku kecewa. Aku sedih.
Tapi semua itu tak kan berarti. Aku menenangkan diri. Aku paham tak semua keinginan itu bisa didapatkan. Ikhlaskan dia untuk pergi lagi. Sekarang saatnya aku memilih tetap berusaha menggapainya dikemudian hari atau diam dan pindah halauan.

Aku tetap padamu, Bang Raditya Dika. Aku akan tetap menulis. Seperti saranmu, Aku akan memulai menuliskan kegelisahanku dan menjabarkannya semauku.

"Tragedi adalah komedi yang butuh penambahan waktu"
Yogyakarta, 19 Oktober 2014.
Raditya Dika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar