Minggu, 18 Desember 2016

Pria Tampan

Sebelum menulis ini, aku berusaha menenangkan pikiranku. Beberapa kali aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Senyumku tersungging lebar. Terkadang aku ketawa kecil. Aku menertawakan diriku sendiri. 
Kemarin sore, tepatnya aku sedang duduk sendiri di ruang pendaftaran tempatku bekerja. Aku baru saja menyelesaikan tugas membuatkan obat-obat untuk pasien-pasienku. Sore itu, ada sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan klinik. Aku melihatnya secara detail. Perlahan, ia menutup jendela mobilnya. Membuka pintu lalu turun dan menutupnya kembali. Dari kejauhan, aku melihat seorang laki-laki dengan pakaian dinas Pegawai Negri Sipil berjalan kearahku. Senyumnya tipis, tapi mengembang perlahan. Sempurna. Aku melihat tak ada seseorangpun berjalan dibelakangnya. 
"Single nih". Pikiran jahatku merajalela.
Dengan nada lembut bak pangeran surga, ia menyapaku. 
"Permisi mbak. Emm. Mau periksa".
"Emmm. Iya mas. Emm, Pak. Mau periksa apa?" Aku gelagapan. Debar jantungku pasti sudah tidak stabil.
"Itu mbak. Emm anu. Istri saya pusing".
Rasanya kerja jantungku sekarang malah berhenti sepersekian detik. Aku tidak lagi tersenyum, tapi meringis.
"Oh iya pak. Bisa dibawa turun keruang periksa tidak ya? Nanti akan kami berikan tindakan yg sesuai setelah dilakukan pemeriksaan".
Kemudian sang suamipun menggendong istrinya yg berjalan sempoyongan. Sangat mesra.
Aku membuang jauh-jauh hal yang aku pikirkan beberapa detik yang lalu. Dengan senyum tipis, aku melakukan tugasku.
Sebagai bidan, sudah kewajibaku membantu wanita yg kesakitan. Aku melakukan pemeriksaan. Menuliskan resep dan memberikan konseling. Ya, meskipun pasienku ini telah membuat jantungku bermain-main dengan iramanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar