Senin, 03 Februari 2014

Sepanjang Jalan Kenangan


Tulisan ini saya dedikasihkan untuk temanku tercinta (cieee). Untuk Astri sePurwitasari, Siska Amali aah, Riri Ardiyati Yoma Belis aah, dan juga untuk everyone special yang berkiprah dalam perjalanan kami.hehe. Yaps maafkan daku baru bisa nge post sekarang. Semoga sejarah ini terpatri dalam hidup kalian. Uhuk uhuk.

Beberapa waktu yang lalu tepatnya 14 Januari 2014, saya dan tiga orang kawan yang hari itu tergabung menjadi “4 sekawan” (bukan grup lawak lho), melakukan perjalanan panjang sepanjang jalan kenangan. Sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra. (Duh malah bernyanyi). Coba bayangkan panjang banget kan. Kami mempunyai tujuan ke Lereng Barat Gunung Lawu tepatnya di dusun Nglorog, Kabupaten Karanganyar. Suatu Desa yang asri, sejuk, nyaman dan masih kental dengan budaya masyarakat desa yang ramah, sopan dan rasa kekeluargaan yang sangat erat didalamnya. Desa yang sangat bersejarah dalam hidupku di bumi Allah ini. Desa yang sangat kucinta dan tak kan pernah hilang dari kalbu.

First Day
Suatu perjalanan yang anti mainstream banget menurutku.  Kami berangkat menunggang kuda.hehe. Bukan, bukan, sungguh kami naik bus. Aku tau teman-temanku jarang bahkan hampir tidak pernah naik alat transportasi jenis ini, mereka terbiasa naik sepeda motor dan mobil untuk bepergian, dan untuk keluar kota mereka biasa naik pesawat, helikopter, ataupun semacamnya dan baru lusa kemarin mereka pergi ke Bali naik elang (pinjem dari sinema laga indosi**). haha. Ini adalah tantangan yang besar bagi mereka. Perjalanan bersama berawal dari Terminal Giwangan Yogyakarta. Kami sempat kebingungan sebelumnya. Bagaimana caranya kami bisa menuju bus yang akan menghantarkan perjalanan kami. Agak tidak percaya diri sih, aku ingat-ingat lupa dan ketiga temanku mengaku tidak tahu sama sekali. Sampai akhirnya kami menemukannya. Kami putuskan naik bus patas jurusan Surabaya. Ada 4 kursi kosong dibagian belakang, 2 sejajar berderet dan 2 lagi terpisah. Silahkan teman untuk memilih kursi. Riri dan Astri duduk bersama, Aku dan Siska duduk berpisah namun berdekatan. Semua siap dan kami pun berangkat. 

Selain duduk didekat Siska, aku juga duduk dekat seorang laki-laki, sepertinya dia seorang mahasiswa juga yang tujuan nya ke Surabaya. Dia sempat menyapaku dan asyik mengotak-atik laptopnya. Sengaja aku mengamati gerak geriknya tentu tanpa sepengetahuannya. Ia mulai bertingkah, laptop dimatikannya, kakinya diangkat kekursi tempat ia duduk, ditutupnya muka dengan jaket miliknya dan ganti ia bermain dengan handphone miliknya. Aku mulai illfeel dengannya, belum lagi aroma jaket yang ia kenakan. Beuh, baunya sesuatuh. Aku rasa penggunaan parfum yang berlebihan bercampur dengan keringat, senyawa kimianya akan berikatan sehingga menimbulkan senyawa baru yang aroma sangat tidak mengenakkan. Saranku jika kalian bepergian apalagi naik kendaraan umum jangan menggunakan parfum yang aromanya menyengat dan berlebihan. Hal itu sangat mengganggu orang disekitar kalian. Walaupun begitu aku tetap berlaku biasa.


Aku menikmati perjalanan, kulihat Riri dan Astri memejamkan mata dan saling bersandar. Siska? Oh Siska, inilah yang dikhawatirkan. Dia mulai mabuk (bukan karena oplosan miras lho). hehe. Dia muntah-muntah, untunglah banyak membawa persediaan kantong plastik dan tissu. Dan apa yang terjadi dengan laki-laki yang disebelahku tadi, untuk kedua kalinya ia menyapaku dan berkata “mbak-mbak, bawa kantong plastik lebih nggak?”. Duh, kubuka kantong plastik berisi makanan milik Riri dan kujadikan satu. Kuberikan kantong plastik itu. Dan muntah-muntahlah ia sejadi-jadinya. “hemm, mas mas. Udah saya tebak. Tingkahmu itu seperti menahan mabuk. Dan akhirnya kamu menyerah. Lain kali jaketnya dicuci ya mas, aromanya bikin perut kamu berkontraksi lebih parah daripada hanya karena guncangan bus saja.” kataku didalam hati. hehe. Lalu dia berkata kepadaku “Terimakasih ya mbak” dan aku menjawab secukupnya.

Akhirnya bus berhenti menurunkan penumpang di Terminal Tirtonadi Solo. Yups, kita sudah sampai di Solo kawan. Perjalanan hanya sekitar dua jam. Kami turun dan Siska melanjutkan mabuknya di terminal. Aku memijat pundaknya agar dia lebih rilexs dan bisa mengeluarkan apa yang mau ia keluarkan. Sementara itu Astri dan Riri menepi dan ternyata malah curhat sama calo taksi. Rupanya Astri ngajak naik taksi nih. Ini percakapan yang telah disarikan.

Aku katakan kepada mereka, “Niat kita dari awal kan kita mau belajar. Katanya kita mau mandiri, kita mau merasakan gimana sih rasanya orang-orang itu naik bus, masa sih kita mau menyerah. Ayo semangat, tinggal dikit lagi nyampai kok. Tapi terserah deh, gimana yuk baiknya”.
Riri pun angkat bicara “ Iyalah As, nanti boros kalau naik taksi, kita kan mau hemat. Emang masi berapa lama lagi si Ulfa?”.
“Kita harus naik bus dua kali lagi” kataku tersenyum sambil menahan tawa dalam hati.

Merekapun pada melongo dan bertanya-tanya.
Disela-sela pertanyaan yang ia tanyakan kepadaku, Astri nyeletuk “Ulfa kamu kok kuat banget sih. Nggak sakit atau mabuk gitu” kata Astri kepadaku.

Aku hanya tersenyum kepada mereka dan dalam hati aku berkata ”jika aku ikut lelah dan tidak kuat, siapa yang akan menguatkan kalian kawan. Walaupun aku merasa lelah ataupun sebagainya, tidak akan aku perlihatkan kepada kalian agar kalian bisa kembali dan tetap kuat seperti sedia kala”. Semangat girls!!
Setelah melakukan musyawarah yang panjang, akhirnya kami memutuskan untuk tetap naik bus. Bus jurusan Tawangmangu yang akan menurunkan kami di Terminal Karangpandan. Lagi-lagi tempat duduk kami terpisah, formasinya sama seperti kami berada dalam bus dari Jogja menuju Solo. Suatu hal yang membuatku lega adalah melihat Siska bisa tidur pulas bersandar pundak ibu-ibu dengan tanpa rasa berdosa sama sekali sampai-sampai ibu tersebut merasa tidak nyaman untuk duduk. Namun sebaliknya Namanya juga orang tidur, tidak ingat apa-apa untuk sejenak.

Ini bukti yang sangat konkrit.

Sampailah kami di Terminal Karangpandan. Kami disambut dengan guyuran hujan dan mulai merasakan dinginnya daerah pegunungan. Kami menembus hujan untuk menuju bus yang akan kami tumpangi. Yups, bus terakhir menuju lokasi. Bus menurunkan kami dipertigaan, kami tinggal jalan sekitar 10 meter saja.

Alhamdulillah tibalah kami di Penginapan Citra Indah. Dahulu sebuah rumah pribadi dimana aku dan keluarga besarku berkumpul, bercengkrama dan bermusyawarah bersama. Rumah bersejarah dari simbahku tersayang, yang kini menjadi hak milik dan difungsikan oleh Omku yang ganteng sebagai penginapan. Siapa saja keluarga yang mau rehat dan bermalam disana dipersilahkan. Untuk teman-teman yang mau kesana juga dipersilahkan. Bilang aja teman Ulfa. Terus kenapa kalo bilang temannya Ulfa? Bisa gratis ya? Ya enggak juga sih..haha.

Disana kami disambut oleh karyawan yang menunggu penginapan itu dan ditunjukkan kamar yang sudah aku pesan sebelumnya lewat tanteku. Kunci kamar diserahkan kepadaku dan kami melepas lelah secukupnya. Tempat tidur dan kamar mandi yang selama ini kami cari telah didepan mata. Umiku berpesan jika membutuhkan apa-apa jangan sungkan untuk bilang atau bertanya kepada mas Wahyu, salah seorang karyawan yang baik. Alhasil kami sering juga minta bantuan mas Wahyu. Hehe. 

Kami pun mengeluarkan barang bawaan kami, seluruh pakaian ditata rapi dilemari, makanan minuman berjajar layaknya toko kelontong. Sesuatu yang sangat anti mainstream untuk yang kedua kalinya yaitu yang 3 orang temanku bawa juga saat liburan adalah sembako, ada beras, mie instan dan satu lagi tempe bungkus.. Hahaha. Absurd banget. Dikira disini nggak ada toko kali ya, padahal banyak toko dan tempat makan yang dekat, lagi pula dipenginapan juga sudah ada gitu kan bahan makanan dan sekaligus alat masaknya. Tapi kenapa juga mereka tidak membawa minyak goreng ataupun perlengkapan memasak gitu kan. Andai saja di penginapan tidak disediakan seperti yang mereka bayangkan itu, haih gimana coba mau masaknya. Haha. Tapi aku bersyukur banget, mereka tidak membawa itu semua (perlengkapan memasak). Nggak bisa ngebayangin gimana bawanya di bus gitu. Haha. Dikira kemah di hutan hutan kali yak. Ini kita bakal berlibur dipenginapan milik omku kawan. Seperti dirumahku, anggap seperti itu. 

Second Day
Agenda hari ini kita jalan jalan ke dua obyek wisata. Pertama kita jalan ke sebuah candi. Candi Sukuh namanya. Terletak di Lereng Barat Gunung Lawu dengan ketinggian 951m dpl. Konon candi ini merupakan simbol kesuburan. Ada sebuah relief dimana jika ada seorang wanita yang melompati relief ini dapat mengetahui tentang keperawanannya. Kami menuju lokasi dengan jalan kaki. Menurutku tempatnya tak begitu jauh, butuh waktu satu jam untuk sampai di sana dengan jalan kaki. Jalan yang berliku, penuh tanjakan dan pemandangan indah yang disuguhkan. Aku rasa suatu hal baru bagi teman-teman dan semoga tidak terasa lelahnya. Tapi sepanjang jalan mereka selalu bertanya “ masih jauh nggak?” begitu berulang kali, tandanya ini jauh dan melelahkan bagi mereka. Tapi aku lihat semangat mereka masih membara apalagi setelah bertemu dengan ibu-ibu yang sudah lanjut usia menggendong kayu dipunggungnya yang telah ia dapatkan dari hutan. Mereka terlihat semangat, tetap terenyum dan menyapa kami dengan logat khas orang pegunungan. Ada beberapa ranting kayu yang berjatuhan dan aku datang untuk membantu mengambilkannya. Ini bukti bahwa sebenarnya kebahagiaan adalah sesuatu sangat sederhana. Tergantung bagaimana kita bisa bersikap bersyukur dengan apa yang kita hadapi sehingga kebahagiaan itu tercipta.

Lelah kami terbalaskan dengan setibanya kami disana, pemandangan dari atas yang sangat asri ditemani hujan dan angin yang membuat kami kedinginan setengah mati. Berarti setengah hidup dong. Hehe.
Kami jalan-jalan dan menghampiri setiap relief yang ada. Jeprat-jepret, lenggok sana lenggok sini, gaya ini gaya itu, ya fitrahnya wanita suka bergaya dan mengabadikan setiap moment bersama. Sebenarnya juga bukan hanya wanita saja, lelaki juga sama.

sweet

mencari sinyal dengan tower pribadi.

Dirasa cukup dan hujan semakin lebat disertai angin yang cukup kencang, kami berteduh didekat loket. Bisa dibayangkan betapa dinginnya waktu itu. Semua menggigil dan yang paling parah adalah Riri. Sebenarnya aku khawatir dengan hipotermia yang dialami Riri, teringat juga kisah seniorku saat hiking ke Puncak Gunung Lawu ini hampir saja nyawanya melayang karena hipotermia. Dengan bercanda kami juga menyalahkan Riri, pertama diantara kami yang paling kurus dan tak memiliki banyak lemak adalah Riri, secara lemak adalah suatu senyawa hasil perombakan glukosa, untuk percadangan energi yang digunakan saat kondisi darurat, hehe. Ya misal pada kondisi kedinginan seperti ini atau saat dikejar anjing.haha, jadi ingat dosen Biologi. Kedua dia tidak memakai jilbab yang seharusnya wajib ia kenakan.

Untunglah kami segera memutuskan untuk meneruskan ke obyek wisata ke dua yakni Air Terjun jumog yang letaknya tidak jauh dari Candi Sukuh. Sekitar 5 km dibawah Candi. Untuk masuk dikedua obyek wisata tadi, tidak dibutuhkan biaya tiket yang mahal, mungkin hanya Rp.3000.00 atau Rp.5000.00 saja. Dan berlaku gratis untuk kami berempat.hehe. Pesona alam yang indah dan masih asli. Namun memiliki banyak sekali perubahan dari awal-awal dahulu aku datang kesana. Karena aku sudah pernah merasakan dinginnya air terjun maka aku memutuskan untuk tidak main air ataupun basah-basahan. Biar aku yang jadi fotografer dan penjaga tas saja. Hehe.
Welcome to Air Terjun Jumog



Tapi tidak terlalu lama kami bermain, karena sudah sangat kedinginan kami langsung meninggalkan tempat dan pulang tanpa ganti pakaian (berarti pulang dalam keadaan basah nih). Nggak usah dibayangin! Untuk pulang kami harus jalan kaki lagi sebelum bertemu dengan kedua kakak sepupuku yang datang untuk menjemput kami. Menikmati jalan yang exstrem dengan satu motor untuk tiga orang. (3 in 1).

Sampai dipenginapan kami langsung bebersih diri, kecuali aku yang harus menemani kedua kakak sepupu dan umiku yang datang untuk mengobati rasa rindu. Terimakasih ya Mbak Dian dan Mas Tony udah mau datang nemuin si Upil. Setelah umi dan kedua kakakku pulang, aku melanjutkan bergabung dengan teman-teman dikamar. Waktu malam kami, kami habiskan untuk nonton TV, belajar masak (goreng tempe yang asinnya selaut), liat pemandangan waktu malam yang indah seperti diluar angkasa (lebay kalo ini) walaupun hanya dari dapur, dan berbagi kesan-kesan selama 2 hari ini.

Third Day
Acara hari ini bersantai ria. Menikmati dingin dan rintik hujan. Rencana kami, siang ini pergi ke Kebun Teh Kemuning. Sebelumnya aku pergi kerumah Mas Dony (kakak sepupuku yang lain) untuk pinjam motor. Untung rumahnya cukup dekat. Sementara itu teman-teman sudah siap-siap dan nungguin aku sambil narsis foto-foto di teras depan. Aku datang dan langsung berangkat. Sesampainya disana kami disuguhkan pemandangan kebun teh yang luas nan hijau. Indah, segar dan ploong(maaf bukan promosi permen). Kami puaskan untuk hunting foto disana. 
Ini nih hasilnya


Sesudah merasa cukup, kami pulang dan rehat di warung soto kare dan mencari buah tangan untuk orang-orang dirumah Jogja. Kami kembali ke penginapan. Disana ada umiku dan kami duduk bersama bercerita tentang apa yang dapat kami ceritakan.

Malam ini malam terakhir kami liburan bersama disini. Teman-teman udah packing rapih. Sedangkan aku masih santai, aku berniat pakaianku ku tinggal disini karena belum kering dan lusa aku akan kembali lagi. Ada yang sedih juga bakalan ninggalin tempat ini. Kata teman-teman “aku bakalan kangen sama tempat ini”(uh uh cup cup). Aku merasa masih kangen juga, apalagi setiap sudut ditempat ini memiliki cerita tentang aku dengan orang-orang tersayang. Sudahlah.

Last Day
Bangun pagi-pagi. Membereskan banyak hal yang perlu dibereskan. Tas-tas sudah dikeluarkan dari kamar. Kami berpamitan kepada Umi(yang waktu itu mampir sepulang dari Madrasah) dan kepada kedua karyawan yang di penginapan, Mas Wahyu dan Mas Yoga.

Kami menunggu ditepi jalan depan penginapan, kebetulan dari jalan atas bus datang menghampiri kami. Baru menjatuhkan pantat di tempat duduk, rupanya teman-teman sudah membicarakan mas Wahyu. Wajar juga sih, denger-denger beliau nya anak lulusan pondok, orangnya baik, putih, bersih, pemalu (katanya sendiri) dan  ganteng juga kalo kata temenku. Haha. Masyaallah, ternyata baru bisa mengungkapkan perasaan yang terpendam selama ini, dan sudah terlambat karena kami sudah perjalanan pulang. Mereka pada nitip salam tu buat mas Wahyu dan sudah aku sampaikan juga saat aku kembali kesana untuk mengambil pakaianku yang aku tinggal. Kata dia “salamnya berapa ikat mbak? Salam balik aja deh”. Hehe, puas tu temen-temen udah dapat salam balik dari pujaan hatinya. Awas ya kalo suruh balikin lagi.

Dan lebih cepat dari perjalanan berangkat, kami telah tiba lagi di Kota Jogja. Alhamdulillah selamat dan sehat. Semuanya terhindar dari yang namanya mabuk darat. Yeeeess!! Congratulation girls!! Kalian lulus diliburan kali ini. Semoga barakah dan dapat mengambil pelajaran dari perjalanan ini. Mohon maaf jika Ulfa banyak salah dan keliru, misal sering bilang katanya deket ternyata jauh dan sebagainya. Ternyata jauh dekat itu relatif juga ya. Setiap orang memiliki penilaian dan paradigma masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar